Kamis, 01 September 2016

Manusia : Kesalahan dan Kematian

 Image result for main hakim sendiri





Manusia itu berbeda-beda, kita harus tahu hal itu. Ada lebih dari seratur milyar manusia di dunia sejak zaman purba (sebuah lembaga di Amerika, Population Reference Bureau (RPB) mengklaim telah berhasil menghitung perkiraan total manusia yang pernah berdiam di bumi. Penghitungan itu dilakukan dengan mengestimasi jumlah penduduk sejak 50.000 sebelum Masehi yang jika ditotal, ada sekitar 108,2 miliar orang yang pernah lahir ke bumi sejak sejarah manusia muncul, dikatakan jika tidak dihitung dengan jumlah manusia yang sekarang masih hidup, sekitar 7,4 miliar, maka total manusia yang sudah mati sekitar 100,8 miliar. Angka itu sama dengan 14 kali lipat orang yang masih hidup saat ini)

Sifat, karakter, pengaruh lingkungan, agama, perilaku, kebiasaan dan adat, hukum, tumbuh dan kembangnya, wajah, bentuk tubuh, gen, fisik dan lain sebagainya saling berbeda. Dengan semua perbedaan itu Tuhan menginginkan satu. Tegaknya hukum-hukum keseimbangan di muka bumi ini. Keseimbangan antar alam, manusia dan makhluk hidup lainnya serta segala ciptaan-Nya. Namun tidak semua menuhankan Allah, tidak semua memahami apa yang Allah inginkan, tidak semua manusia menyadarinya. Tidak semua membuka matanya, telinganya, pikirannya. Semua dibentuk oleh sejarah, keangkuhan, kepongahan, keserakahan akan kesenangan, kekuasaan, tentu saja di dunia. Semua berbeda karena bumi ini senantiasa berevolusi dan berkembang. Allah bilang dalam firman-Nya

“..hanya orang yang berakal saja yang mampu melihat alam sebagai tanda kebesaran Allah” (QS. 3:190)

Manusia bukan tidak tahu tapi sebagian besar dari mereka tidak mau tahu karena lebih mengikuti keangkuhan mereka. Apakah itu juga bentukan sejarah dan lingkungan? Nenek moyang dan tradisi.? Orang tua? Orang lain? Guru atau mentor? Tidak. Allah dengan alam semesta ciptaannya senantiasa membuka kesempatan bagi manusia untuk berpikir dan menemukan kebenaran. Menemukan Tuhan dan misi penciptaanya di dunia. SunatullahNya telah mengaturnya, tidak akan ada yang buta atau tidak tahu sama sekali mengenai informasi Allah hanya kecuali dia tinggal dalam ruangan tertutup selama bertahun tahun. Atau mungkin bisa saja dia tidak bisa mengakses informasi karena informasi telah ditahan oleh peguasa atau kondisi negara dimana ia tinggal. Tapi bagi orang yang berpikir menemukan kebenaran maka kebenaran itu akan muncul dengan sunatullah pencarian. Bagaimanapun dan entah seperti apapun caranya. Mekanisme alam akan bekerja karena semua ciptaan Allah yang ada di muka bumi ini saling berkaitan dan mempengaruhi.

Kecuali dia (manusia) tidak berakal sehingga tidak bisa berpikir. Mungkin orang gila sejak lahir, gangguan otak, gangguan mental dlsb. Manusia jenis ini dibebastugaskan dari misi dan tugasnya sebagai manusia. Lantas bagaimana kedudukan hukumnya? Wallahu’alam. Tapi manusia terus hidup dan berkembang. Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana cara kerja otak dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Tidak ada yang bisa menyamai ciptaan Allah, tidak satu kutu atau lalat pun.

al Warisy mengatakan bahwa kebenaran itu adalah akal dan ilmu pengetahuan. Sifatnya tunggal dan harus bisa dibuktikan dengan logika dan antithesis. Kebenaran tak lekang oleh waktu, mau dari zaman dinosaurus sampai sekarang faktanya tetap sama tdak berubah dan tak bisa diubah menjadi apapun. Sedangkan keseimbangan adalah hukum yang didambakan setiap manusia. Tidak ada agama lain yang menegakkan hukum keseimbangan selain Islam.

Bagaimana seorang manusia yang mampu berpikir dan berakal bisa menjalankan hidupnya ditengah manusia-manusia yang mempunyai akal namun tidak berpikir?

Terkait dengan judulnya manusia, kesalahan dan kematian. Ada sebuah fenomena di masyarakat terkait menyelesaikan seperti persengketaan dan permasalahan akibat ragamnya perbedaan ini. Tidak. Jika kupikir kembali tetap ada satu yang namanya kebenaran dan aku harus memenangkan kebenaran itu. Aku harus menegakkan kebenaran itu di masyarakat, di muka bumi ini. Namun yang jadi masalah ialah bagaimana agar masyarakat yang ragamnya perbedaan itu bisa menerima kebenaran itu yang bisa saja tidak memuaskan mereka atau bisa saja membuat mereka murka, marah, menentang atau bahkan membuat kerusuhan. Bagaimana jika seandainya mereka tidak mau menerima akan suatu kebenaran. Apa yang akan aku lakukan kelak atau bahkan sekarang saat ini? Dan mereka merasa tidak ada keadilan terhadap mereka. Lantas bagaimana kondisi yang disebut dengan keadilan? Bagaimana merealisasikan asas kebenaran, keadilan dan kemafaatan yang selama ini selalu digaung-gaungkan oleh hukum, oleh seorang penegak hukum, oleh seorang hakim?

Semua ini berawal dari video di Youtub* yakni kepergok pencurian motor yang berakhir dihakimi oleh massa. Sang pelaku sudah benar2 babak belur dan tidak berdaya tapi tetap digebukin. Dia dihakimi oleh banyak orang samapi tidak mempunyai kesempatan berbicara. Sampai kemudian muncul teriakan dari kumpulan  massa untuk segera membakar saja dan menyuruh sebagian untuk segera mengambil bensin. Dengan tak hentinya dia dipukuli dan diinjak-injak. Namun video berhenti sebelum akhir dari kasus itu. Jadi tidak tahu apakah benar si pelaku dibakar atau dihajar sampai otaknya keluar seperti dalam judul. 

Yang ingin kusoroti adalah tindakan main hukum sendiri. Kejadian itu berlangsung di kota Medan dimana karakter orang pada umumnya di sana keras. Islam sangat sedikit sedang mayoritas Kristen. Kenapa aku melihat dari agama karena hanya Islam (ilmiah) yang membawakan kita pada keseimbangan. Maka selain Islam (ilmiah) tidak ada keseimbangan seperti yang ditunjukkan oleh sekelomopk masyarakat di medan itu. Hati kecilku bertanya apakah yang aku lakukan jika dihadapkan dengan kasus seperti itu? Tindakan si pencuri jelas salah apalagi dia telah berkali2 mencuri. Tapi tindakan main hakim sendiri seperti itu apalagi jika sampai menyebabkan  kematian juga tidak dapat dibenarkan alias salah juga. Tapi mereka masyarakat itu melihat bahwa karena si pencuri itu salah dan mungkin juga maksudnya agar membuat si pelaku jera. Atau mungkin mereka tidak percaya lagi dengan penegakkan hukum di Indonesia yang tidak membuat jera dan malah bisa membuat keluar masuk para penjahat sehingga lebih baik membunuh pencuri itu daripadda akan tterulang lagi hal yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar