Minggu, 11 Juni 2017

Penghindaran

Sejauh mana kamu bisa menghindar dan lari dari kenyataan. Kenyataannya adalah bahwa kamu tidak bisa menghindarinya.
Mungkin kamu bisa merasa berhasil karena sudah sejauh ini menghindar. Tapi tetap tak bisa menang melawan kenyataan.

Kepastian? Kepastian adalah Sunatullah, hukum-hukum Tuhan.
Semua berawal dari nol. Ketiadaan. Kemudian dimunculkan suatu ciptaan. Menjadi ada. Berjalan. Dan sebelum berjalan telah ditetapkan batas-batas yang tidak bisa dilanggar.
Sang pencipta telah menentukan dan menginginkan ciptaan-Nya sesuai dengan yang Ia kehendaki. Telah ditentukan sebelum suatu ciptaan itu sendiri bisa menyadarinya.

Penemu blender, menciptakan blender dengan maksud agar blender itu menghancurkan buah-buahan, sayur atau makanan lain dan terciptalah minuman atau makanan halus unik yang kita sebut jus atau bisa jadi bubur. Blender punya keterbatasan untuk menghancurkan selain buah dan sayur atau benda lunak mudah hancur lain. Dari satu titik mengingkari tujuannya ia akan hancur.
Misal ia ingin menghancurkan batu, maka pisaunya tidak akan mampu memotong batu keras karena pisau blender tidak diperuntukkan memotong batu. Ia akan rusak dan bila dipaksakan bisa-bisa tidak dapat difungsikan lagi.

Namun bagaimana bila blender itu punya kehendak sendiri? Ia mulai tidak mau menjalankan lagi tujuan asalnya. Ia pikir memotong buah dan sayur membosakan dan terkesan lemah, ia lebih memilih memotong batu. Maka kau sebagai pencipta pasti akan mencegahnya dan mengingatkan kembali akan tujuan awal si blender diciptakan. Kau pasti berusaha meluruskan kembali sebelum ia akan benar-benar hancur. Namun ketika tetap bersikeras blender itu menolak, kau akan menyerah bukan. Kau akan melepaskannya sehingga akhirnya ia akan benar-benar hancur.

Itulah kenapa. Selamanya kita tetap tidak bisa keluar dari penetapan tujuan di awal penciptaan kita, manusia. Itulah dirimu. Kamu takkan pernah bisa lari lagi dari ketetapanmu. Kamu tidak akan pernah bisa menghindar. Tidak bisa lari dan tidak bisa menghindar. Sebelum dirimu sendiri hancur tak terselamatkan jika bersikeras menghindar.

Saat ini di titik ini. Kau sedang berusaha untuk mengingkari tujuanmu dari ketetapan-Nya. Lihatlah sekarang betapa hancurnya dirimu bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar