Rabu, 07 Juni 2017

Televisi

Aku baru ingat. Dulu aku sangat menyenangi televisi. Tontonan yang kusukai banyak, ada kartun, drama silat cina atau telenovela, mak lampir dan angling dharma. Kenapa tiba-tiba jadi ngebahas televisi? Tiba-tiba teringat saja tadi aku sedang lihat-lihat daftar laptop di Lazada terus kepencet katalog televisi dan aku langsung takjub sekarang televisi sudah semakin canggih apalagi layarnya betul-betul jernih bak aslinya.  Ah aku juga pernah melihat display televisi di Carefour,  gambarnya sungguh terlihat real,  keren.  Bayangkan saja teknologi televisi sudah semakin canggih menggunakan LED layar datar bahkan ada yang layar cekung tambah lagi kualitas suaranya spektakuler tapi televisi di rumahku masih televisi tabung yang kadang gambarnya kesemutan gara-gara antena yang terpasang rendah.  Kalau sekarang orang-orang sudah pakai satelit bukan antena 3 jari lagi.  Tapi bagaimanapun juga televisi di rumahku sangatlah berarti bagi keluargaku.  Mungkin karena itu merupakan satu-satunya harta yang dimiliki oleh keluargaku.

Dari dulu televisi sudah menjadi barang yang berkesan buatku sendiri.  Ah aku baru akan mengingat memori itu lagi. Aku tidak tahu kapan televisi itu mulai hadir di hidupku apakah sebelum aku lahir sudah ada televisi ataukah setelah aku lahir, yang jelas ingatanku dimulai saat aku umur 4 tahun an.  Aku masih tinggal di rumah kontrakan di Manjahlega Bandung. Orang tua pergi bekerja dari pagi sampai malam, kadang aku ikut ke tempat kerja mereka kadang aku dititipkan di simbah-simbah yang suka membantu menyetrika baju-baju kami di rumahku. Karena ini memori anak umur 4 tahun, tentu banyak yang tidak utuh memori ini. Yang jelas kadang aku menonton televisi sepanjang hari tapi ada juga saat aku tidak menonton. Ada saat aku ingin sekali menonton televisi maka aku pergi main dengan anak balita tetanggaku karena mereka punya televisi.  Waktu bulan puasa ketika itu sahur aku ingat keadaan rumahku yang sepi kami makan dengan khidmat sedang dari sebelah rumahku terdengar riuh tawa dan suara televisi. Sewaktu ramai-ramainya pertandingan sepak bola maka warung si empunya kontrakan pun akan ramai setiap sore dipenuhi orang-orang hanya untuk menonton pertandingan itu.  Di antara kerumunan itu aku selalu melihat ayah dan kedua kakak lelakiku sedang bersorak-sorak kegirangan meski terkadang yang kudengar banyak teriakan kecewanya. 

Kemudian televisi itu muncul kembali.  Aku sangat kegirangan. Tiada hari kulewati tanpa menonton televisi. Namun tidak berapa lama ayahku memutuskan untuk membawa televisi itu ke tempat ia bekerja. Untuk hiburan katanya, supaya pelanggan-pelanggan warung baksonya tidak kebosanan sambil menunggu pesanannya datang atau sambil makan.  Aku sangat kecewa. Aku minta padanya agar membelikan televisi satu lagi di rumah agar aku pun tidak kebosanan menunggu mereka pulang ke rumah. Tapi aku tahu kalau itu permintaan mustahil bagi ayahku, jadi mau tidak mau aku harus terima. Sejak saat itu aku jadi sering main di warung baksonya ayahku. Karena aku tidak mau ditinggal-tinggal lagi di rumah jadi aku memaksa ibu agar membawaku serta setiap hari. Nyatanya aku tidak betah menonton di sana karena mereka menempatkan televisinya begitu tinggi dan jauh, leherku jadi pegal lama-lama menontonnya.

Ketika aku berumur 5 tahun, kami pindah rumah. Aku bersekolah di TK yang sama dengan kakak-kakakku. Aku sebetulnya malas sekolah, aku lebih suka bermain atau menonton televisi di rumah. Di masa ini keberadaan televisi lebih stabil sampai aku menginjakkan kaki di Sekolah Dasar kelas 1. Saat aku kelas 1 sepertinya aku tidak punya televisi karena aku ingat kakak perempuanku pernah mengajakku menonton Mak Lampir di rumah uwa (kakaknya ayah) malam-malam. Televisi yang dimiliki uwa masih berupa televisi hitam putih dan salurannya pun terbatas tapi tidak apalah, sudah bisa menonton pun sudah bagus.

Waktu aku kelas 3 SD sedang gandrung-gandrungnya kartun sailor moon namun sayangnya saat itu kami belum mempunyai televisi lagi. Setiap senin-jum'at sore pasti aku ke rumah temanku hanya untuk menonton Sailor Moon. Sayangnya sekolahku itu jam masuk berganti-ganti setiap caturwulan, dari mulai masuk jam 7, jam 11 dan jam 2 siang. Sedihnya itu kalau aku kebagian masuk jam 2 maka pupus sudah harapanku menonton Sailor Moon karena pulang sekolahku pasti jam 5 sore.
Ah waktu kelas 4 SD ada telenovela yang menjadi favorit ibu,  kakak perempuanku dan aku. Judul telenovelanya adalah Paquita, tayang setiap pagi jam 10. Untungnya aku pas kebagian masuk siang jadi sudah langgananku tiap pagi menonton drama itu. Sialnya pas seru-serunya dan hampir pada endingnya drama itu,  ayahku memutuskan membawa televisi itu ke pegadaian. Aku sedih tapi ibuku jauh lebih sedih karena hanya televisi itu harta yang dia punya satu-satunya. Yah mau bagaimana lagi, untuk pertama kalinya aku mengerti kenapa kami tidak pernah awet memiliki televisi. Seperginya ayahku, rumah ini kembali sepi seakan kebahagiaan kembali ditarik dari rumah ini. Hanya terdengar sayup-sayup isakan tangis dari dalam kamar ibuku.

Mungkin televisi itu lebih dari sekedar harta bagi ibuku tapi sudah menjadi sumber kebahagiaan, keceriaan, pelipur lara, dan mungkin bisa menjadi pengalih realita dari kehidupan keluarga kami yang serba kekurangan. Televisi sudah membuat tawa ibuku terdengar setiap hari di rumah kami. Begitu televisi hilang maka yang terdengar adalah tangisan, kesedihan, keterpurukan dan pertengkaran orang tuaku. Aku biasa terbawa suasana perasaan orang tuaku, maka aku akan jadi pemurung, manja, cari-cari perhatian, menangis, banyak menuntut meminta. Tanpa sadar aku juga jadi terikat dengan televisi, aku sampai pernah rela membolos sekolah karena sedang tanggung menonton film cina di televisi. Kebetulan aku masuk jam 12 siang sedang filmnya baru setengah jalan, akhirnya aku pura-pura ketiduran supaya ada alasan telat masuk sekolah dan diizinkan membolos.

Kakak perempuanku hebat, tidak ada televisi maka dia beralih mendengarkan radio. Aku pun ikutan jadi langganan mendengar radio karena ternyata radio juga menyasikkan. Dia berhasil menemukan channel yang keren, penyiarnya lucu-lucu bikin ketawa ngakak,  ada drama juga dan banyak diputar lagu-lagu hits.

Saat keadaan orang tuaku lebih baik maka mereka akan kembali membeli televisi yang baru. Kenapa beli baru? Lalu kemana televisi yang digadaikan? Seringnya kami kehabisan masa tenggang waktu untuk menebus televisi itu sehingga dianggap barang tidak tertebus maka akan jadi hak milik pegadaian.

Beranjak besar aku mulai terbiasa dengan siklus kehadiran dan ketidakhadiran televisi. Lagipula saat SMP aku mulai teralihkan suka membaca komik. Setiap minggu pasti aku menyewa komik di rental komik. Membaca komik ternyata jauh lebih menyenangkan dibanding menonton televisi bahkan kebiasaan membaca komik itu masih terbawa sampai hari ini.

Masuk SMA aku sudah betul-betul jarang menonton televisi, selain karena sekolahku fullday dan aku memang disibukkan oleh kegiatan ekskul di sekolah, saat kelas 2 naik ke kelas 3 aku mulai asrama di dekat sekolah supaya lebih dekat daripada pulang ke rumah. Dan di asrama itu tidak ada televisi dan tidak boleh ada. Tapi ada saatnya aku pulang ke rumah dan pada saat itulah seperti balas dendam aku menonton televisi seharian penuh sampai puas tidak beranjak dari kursi. Setelah asyik menonton pada akhirnya aku jadi malas pulang ke asrama. Mungkin karena stress menumpuk akibat belajar terus dan kegiatan ekskul sedang di rumah aku bisa bermalas-malasan tanpa beban.
Padahal yang kutonton semua cuma kartun atau drama atau acara komedi setiap malam.

Sekarang saat kuliah pun aku jarang nonton televisi. Tidak ada televisi di kostan. Kadang aku menonton televisi di ruang BEM fakultas itupun kebanyakan berita. Tidak ada lagi acara spesial yang aku senangi. Jika aku pulang ke rumah pun saat liburan, aku pasti menonton televisi hanya untuk menghabiskan waktu di rumah sampai aku kembali lagi kuliah. Sekarang sudah zaman internet dan banyak hal yang lebih menyenangkan sekaligus bermanfaat dibanding acara di televisi.

Sekarang di rumahku ada 1 televisi. Ayahku membelinya saat aku masuk kuliah. Padahal ayahku sedang tidak punya pekerjaan apalagi pemasukan. Saat aku protes, dia bilang murah, barang second katanya, hanya 400 ribu rupiah. Tetap saja uang segitu masih besar di mataku. Tapi tak apalah demi penghiburan dan pembuat senyum tawa di wajah ibuku.

Hari ini televisi itu masih ada sekalipun hanya ada singkong rebus setiap hari di meja makan. Ketika kutanya apakah ayahku berencana menggadaikan kembali televisi itu untuk menyambung hidup. Dia langsung tertawa, hari ini siapa yang mau membayar televisi butut begini, katanya.

Betul sih, televisi itu bukan televisi LED besar canggih yang gambarnya terlihat nyata lalu suaranya kualitas Dolby Dts apalah, seperti yang kulihat di Lazada atau Carefour. Televisi yang kami miliki hanyalah televisi tabung yang gambarnya tidak jernih pun sudah mulai pudar warnanya lalu antenanya pula masih antena 3 jari.

Syukurlah aku akan melihat terus keceriaan dari wajah ibuku dalam waktu yang lama. Dulu ibuku suka marah pada ayah karena tidak pernah punya barang berharga yang awet ditangan ayahku. Selalu dijual lah,  digadaikan lah. Bersyukurlah bu sekarang ayah sudah berubah bu, tidak akan menggadaikan atau menjualnya lagi televisi itu.
Tapi hal yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang adalah televisi itu tetap menjadi satu-satunya harta keluarga yang kami punya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar